TAK INGIN CORETAN

Sekarang. 
Kalimat yang kutulis sering salah.
Terlalu sering. Kemudian menjadi banyak.
Dan aku tidak suka hal itu.
Aku paling benci, jika ada coretan dalam tulisanku.
Bukan karena cape menghapus atau semacamnya. Tetapi aku memang membencinya.
Aku tidak mau mencoret, apalagi menghapus. Karena bagaimana pun, bekasnya akan tampak. Dan itu akan membuat tulisanku menjadi tidak rapi dan terkesan kotor. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin tulisanku tetap bersih dan rapi. Tanpa coretan. Tanpa tempelan. 
Jadi, tinggallah dalam ingatanku. Jangan rubah lagi. Tetaplah seperti ini. Biarkan penaku bercerita dengan lancang, tanpa jeda. Tanpa harus mencoret apalagi menghapus. Aku tidak ingin mengganti tokoh utama dalam ceritaku. 
Aku tetap ingin kamu. 

Memo, Februari 2018

Jika Kopi Saja Telah Dihalalkan, Kenapa Ganja Tidak?

Ganja atau mariyuana adalah psikotropika yang mengandung tetrahidrokanabinol dan kanabidiol yang dapat membuat pemakainya (user) mengalami euforia. 

Ganja menjadi simbol budaya hippie di Amerika yang sempat populer, ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap globalisasi yang dipaksakan oleh Kapitalisme terhadap negara-negara berkembang. 

Di India, sebagian dari kelompok Sadu yang menyembah Dewa Siwa memakai produk derivatif ganja ketika melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap habis melalui bong dan minuman bhang. Sedangkan Uruguay adalah salah satu negara yang melegalkan ganja untuk diperjualbelikan dan dikonsumsi pada tanggal 10 Desember 2013.

Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Aceh yang biasanya ditanam pada saat musim penghujan, sehingga ketika menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Ganja merupakan salah satu komponen sayur yang umum disajikan di Aceh sejak dulu. 

Tumbuhan ganja sudah dikenal manusia sejak lama dan didigunakan sebagai bahan tekstil karena serta yang dihasilkannya kuat. Sedangkan biji ganja dapat digunakan sebagai sumber minyak. 

Beberapa negara menggolongkan tumbuhan ganja sebagai narkotika, walau sebenarnya penggolongan itu belum terbukti sepenuhnya dapat membuat user menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintentis atau semi-sintentis yang dapat merusak sel-sel otak.

Di Indonesia, wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan ekspor sempat membuat heboh publik beberapa hari terakhir. Kepala Biro Humas BNN, Brigjen Sulistyo Pudjo, menyesalkan pernyataan anggota DPR RI dari Fraksi PKS Rafli terkait legalisasi ganja sebagai pemasukan devisa negara. Menurutnya, cara pandang legislator Aceh itu terkesan belum memahami maksud pendirian bangsa, sehingga lebih mengedepankan ekonomi sentris ketimbang pandangan faktor pelarangan narkotika jenis ganja, sehingga menjadi mustahil ganja untuk diekspor ke luar negeri (Kompas.com).

Penolakan terhadap legalisasi ganja juga datang dari Anggota Komisi VI dari Fraksi PPP Achmad Baidowi yang menilai usulan legalisasi ganja tersebut bertentangan dengan milai agama, hukum, dan sosial. Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono juga memberikan penolakan terhadap legasilasi ganja, "aturan kita masih melarang berkaitan dengan ganja" dikutip dari liputan6com. Anggota Komisi III DPR RI, Asrul Sani menyatakan bahwa usulan ekspor ganja akan melanggar hukum Indonesia.

Nah, apakah Indonesia perlu melegalkan ganja? Menurut saya pribadi sangat perlu, tetapi harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dan juga melalui sosialisasi kepada seluruh masyarakat agar tidak ada penyalahgunaan ganja.

Dikutip dari WebMD, mariyuana dapat digunakan sebagai obat bila diolah secara medis. Pasien yang memiliki sakit kronis mengalami perbaikan kondisi dari sebelumnya, kemudian pasien dengan multiple scierosis juga mengalami lebih sedikit kejang otot dibanding sebelumnya. 

Bahkan, pasien dengan peradangan usus parah mulai bisa makan lagi. Penelitian yang dilakukan oleh Sulak ini cukup kuat dan menambahkan sejarah panjang manfaat  ganja yang dapat digunakan sebagai obat terapeutik. Namun masalahnya, karena tergolong barang ilegal, sulit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas ganja dalam dunia medis.

Kanada merupakan negara kedua setelah Uruguay yang melegalkan ganja, dan berkat legalisasi itu, saham-saham industri terkait melambung di bursa saham Toronto dan New York. 

Secara total (dikutip dari CNBC Indonesia), statistik di Kanada mengatakan 5,4 juta orang atau sekitar 15% dari populasi Kanada akan membeli ganja dari apotek legal pada 2018. Sekitar 4,9 juta sudah mengisapnya. Penjualan ganja diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga US$ 1,1 miliar atau sekitar 16,7 triliun rupiah dan menyediakan penerimaan pajak penghasilan sebesar 400 juta US$ bagi pemerintah, menurut statistik Kanada. 

Pada Desember 2018, Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk keperluan medis dan penelitian. Keputusan ini memicu berbagai pihak untuk ikut terlibat dalam urusan penanaman ganja, yang digadang-gadang bisa menjadi penghasil uang utama bagi Thailand.

Jika kita bicara dalam konteks agama, tentu banyak orang yang mengatakan bahwa ganja adalah barang haram karena dapat membuat kecanduan. 

Tapi bagaimana dengan kopi? Pada jaman dulu, kopi juga salah satu barang haram yang dapat membuat kecanduan. Tapi sekarang, setelah terdapat penelitian yang dilakukan guna mencari manfaat kopi, barang yang tadinya haram itu sudah tidak lagi haram, bahkan terdapat label halal dari MUI pada kemasan kopi.

Pada tahun 1511, Gubernur Mekah, Khair Beg memerintahkan menutup semua warung kopi di wilayahnya dengan dalih "warung kopi punya potensi menjdi sumber kebangkitan sekulerisme". Mereka yang tertangkap meminum kopi, terlebih yang menjualnya, akan mendapatkan hukuman. 

Tetapi larangan itu pada akhirnya dianulir oleh Kaisar Ottoman, Sultan Salim 1, atas rekomendasi Mufti Agung Mehmet Ebussud al-Imadi. Beberapa ulama pada tahun 1535 mengusulkan agar minuman kopi terlarang bagi umat muslim karena dinilai memabukkan. Sheikh Jamaludin adalah Ulama pertama di Semenanjung Arab yang pertama mencicipi kopi pada tahun 1454, kata beliau kopi berkhasiat mengusir lelah dan lesu.

Orang-orang yang berada di wilayah kekuasaan Islam jaman dulu mengharamkan barang seperti kopi dan juga beberapa produk lain, karena mereka belum mempunyai kesempatan untuk melakukan penelitian, sehingga mereka lebih menggunakan dogma agama untuk memutuskan perkara halal dan haram pada suatu barang. 

Namun semakin berkembangnya jaman, barang-barang yang dulunya dilarang, perlahan mulai diteliti untuk dicari manfaatnya sehingga pada saat ini, kopi bisa dinikmati oleh banyak orang tanpa larangan, khususnya dari agama,

Nah, jika kopi saja yang dulunya haram, namun setelah dilakukan penelitian dan mendapatkan manfaatnya, sekarang menjadi halal. Lalu, kenapa hal serupa tidak diberlakukan juga kepada ganja?

"RENUNGAN AKHIR TAHUN"

Waktu adalah sesuatu yang tak terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini.

Tapi inilah realitas dari kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjal di setiap langkah kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan seperti ini.

Di keluarga, ketika kita didudukan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan yang terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai kakek dan nenek, kita merasa ditinggalkan dan terabaikan, kita kesepian.

Di pekerjaan, ketika kita didudukan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut. Dan ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai makhluk yang paling malang, sebagai insan yang paling menderita di dunia. Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil, mengapa kita harus terlahir menanggung derita-derita yang berkepanjangan ini?

Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya. Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita buka mata dan hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung, menelaah dan mencari pencerahan dari cerita kecil ini, sang tukang kayu dalam kisah ini mungkin akan membangunkan hati kita.

***********

Dikisahkan, seorang tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang bertanggung jawab penuh. Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada Sang Tuan, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang Tuan ingin ia membuat sebuah rumah megah untuknya.

Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan. Pukulan palu yang harusnya ia ayunkan tiga kali, hanya ia ayunkan satu kali, itu pun ia lakukan dengan tidak sepenuh hati. Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa Sang Tuan tidak lagi berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia lampiaskan pada pekerjaanya.

Sebuah "Rumah Mewah" yang jauh dari arti "Mewah" akhirnya selesai tepat waktu. Ketika hari pensiun tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah “KUNCI” rumah. Ketika ia menerimanya segera ia tersadar, ternyata kunci yang digenggamnya adalah kunci dari "Rumah Mewah" yang baru selesai dibangunnya. "Hadiah special ini dipersembahkan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini." Kata Sang Tuan. Lalu, sang tukang kayu hanya mampu melihat kunci rumah itu dengan "PENYESALAN".

**********

Bukankah kita seperti tukang kayu ini, kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri. Ketika kita membangun rumah masa depan kita dengan sembrono, kita akan mendapatkan rumah yang mungkin kita tidak sukai, tapi itulah rumah yang harus kita tempati, rumah yang kita bangun dengan ayunan tangan kita. Kita boleh merasa kecewa ketika kita mendapati kenyataan bahwa rumah kita tidak seindah yang kita impikan, bahkan reot.

Kita boleh merasa kecewa ketika kita harus melalui kehidupan yang tidak menyenangkan, tapi inilah realitas hidup, sedih yang berkepanjangan tidak akan mengubah rumah yang telah kita bangun dengan tangan kita sendiri, oleh karma yang telah kita tanamkan.

Lalu, mari kita kembali pada kehidupan kita yang keras, yang penuh tantangan, ketika segalanya berubah menjadi kacau dan tidak terkendali, ketika kita begitu frustasi. Saat ini, kita masih diberi waktu untuk mengubah rumah masa depan kita, kita masih diberi waktu untuk memperindah setiap sudut ruangan hati kita. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik kita telah membangun masa depan kita? Disadari atau tidak, kita dapat membangun rumah kecil kita melalui hal-hal sederhana, kita dapat membangunnya melalui pelukan kita pada Ibu, melalui secangkir kopi yang kita sajikan pada Ayah, melalui kecupan selamat pagi untuk pasangan kita, atau melalui aluran tangan kita untuk menuntun bocah-bocah kecil kita.

Beban berat yang kita pikul akan menjadi lebih ringan, karena tangan-tangan kasih dari ayah bunda, saudara, kerabat dan teman akan membantu kita melaluinya. Dan kita pun akan menjadi kokoh. Melalui kesempatan ini, ketika kita masih ada waktu, selama kita masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih sayang, mari kita lakukan hal-hal sederhana itu sekali lagi. Mari peluk Ibu yang di samping kita dan nyatakanlah cinta kita, mari kita kecup kening bocah kecil kita, mari kita genggam tangan pasangan kita dengan mesra, mari kita berjabat tangan dengan teman kita dan katakan betapa kita menghargai persahabatan itu dan mari kita maafkan mereka yang pernah menyakiti kita.


Semoga hari ini, lebih baik dari hari kemarin