"""" UNTUKMU, MATAHARI """"


"""" TINGGAL DALAM GELAP """""




Entah apa yang sekarang ada dalam benakmu
Tentang aku, tentang kamu, tentang kita..
Aku telah melangkah
Setapak demi setapak
Meninggalkan jejak ternyata
Aku hanya menikmati bebasnya mimpi
Mewujudkan kemenanganku
Tanpa kamu tentunya..

Tidak ada yang perlu disesali
Semua adalah pilihan
Hanya saja, pilihan itu tepat atau tidak
Aku telah memilih untuk mencari
Dan berjuang..
Tapi terkadang, tidak semua dapat kita raih
Kini ketika matahari telah tenggelam,
Aku pun tinggal bersama malam

Kutunjukkan dengan gelap pun aku bahagia
Karena terang telah bercahaya dalam diriku
Di dalam kesunyian, terdapat harmoni yang indah
Karena merdunya suaraku yang berasal dari murninya hati
Menyesalkah kamu matahari?
Mendengar arogannya diriku ini..
Kesalkah engkau yang hanya dapat bersembunyi di balik langit?
Aku telah memilih,
Begitu juga denganmu
Dan nikmatilah pilihan itu..

Jalan yang dulu kupilih,
Takkan membuatku jera
Untuk tidak menjadi seorang pecundang!
Kamu bukanlah siapa-siapa matahari,
Hanya menarik karena rupawan semata
Dan kini, kau pun tahu  siapa aku..
Kecewakah kamu?
Apapun jawabanmu,
Aku tak peduli lagi..

Kopi vs Cangkir



Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik. Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik.
Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya." Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.
Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar".
Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. 
Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan...

CINTA DI TEPIAN MAYA

CINTA DI TEPIAN MAYA

Seraut wajah kenangan
Terkubur jauh di batas kerinduan
Kilas bayangan kemesraan
Tinggal lukisan dalam panggilan
Entah di mana ku temukan sinar
Sedang diri masih di dekap kegelapan
Tak terelakkan
Apakah secercah pelita
Pengiring langkahku dalam gulita
Mungkinkah masih sama
Rindu tak pernah menuai cinta
Hanya meninggalkan bekas luka
Dalam robekan hati terlunta rasa
Merana
Hilang semua harapan
Lepas segala impian
Tidak ada lagi sapaan kehangatan
Hanya dingin berpeluk kesepian
Sunyi telah menjadi teman
Sendiri mengeja kedukaan
Menyakitkan
Sendiri melukis jera
Memendam hasrat yang terlupa
Terbenam di keruhnya lara
Menguntit di kejenuhan luka
Tak terbaca tak terkata
Cinta di tepian maya


Salam santun malam sahabat hati

IKAN KECIL DAN AIR

 

suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?”

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.

Calvin Mansawan (M 4 N C 4 W): Add captionSenja itu diam......Ketika Pucuk pucuk...

Calvin Mansawan (M 4 N C 4 W): Add captionSenja itu diam......
Ketika Pucuk-pucuk...
: Add caption Senja itu diam...... Ketika Pucuk pucuk cemara terpaku bisu Membawa jiwaku mengembara… Hingga menembus batas lamunku Di s...

Mananti

gambar tidak ditampilkan
Add caption
Senja itu diam......
Ketika Pucuk pucuk cemara terpaku bisu
Membawa jiwaku mengembara…
Hingga menembus batas lamunku
Di sini ……..
Masih Aku simpan setangkup rindu untukmu
Di sudut hati, dimana keresahan membias sendu
Hingga lelah hati temani sepiku..
Entah….
Masih sanggupkah tangan ini melukis langit
Dan menggambar garis garis pucat wajahmu
Diantara Rindu … yang hempaskan aku.
Atau biarkan saja angin menghapus Jejakmu
Mungkin..
Aku Akan terus menanti
Hingga Kau Kembali…… di sini….
Untuk ku...... & untuk menjawab...